Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Gunung ini terletak di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Aktivitas Gunung Merapi telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan meninggalkan banyak catatan sejarah letusan yang berdampak besar bagi masyarakat di sekitarnya. Salah satu erupsi paling besar terjadi pada tahun 2010 dan menyebabkan kerusakan parah di berbagai wilayah lereng Merapi, terutama di Kabupaten Sleman.

Erupsi Merapi tahun 2010 mengeluarkan awan panas, lava pijar, serta material vulkanik dalam jumlah besar. Dampak letusan ini tidak hanya dirasakan di satu wilayah saja. Selain Kabupaten Sleman, beberapa daerah lain juga terdampak, yaitu Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Banyak rumah penduduk, lahan pertanian, dan fasilitas umum rusak akibat letusan tersebut. Beberapa desa bahkan harus direlokasi karena tidak lagi aman untuk ditinggali. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api harus selalu siap menghadapi risiko bencana alam.

Setelah erupsi besar tahun 2010, Gunung Merapi tidak berhenti beraktivitas. Pada tahun 2011 hingga 2012, Merapi masih menunjukkan aktivitas berupa guguran lava dan awan panas dari kubah lava di puncaknya. Aktivitas tersebut menandakan bahwa kondisi gunung masih berbahaya dan memerlukan pemantauan secara terus-menerus. Pada tahun 2014, Merapi kembali mengalami erupsi yang disertai letusan abu vulkanik. Selanjutnya, pada tahun 2018, terjadi erupsi freatik yang muncul secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda awal yang jelas.

Aktivitas Merapi berlanjut pada tahun 2020 hingga 2021 dengan pertumbuhan kubah lava baru dan guguran lava pijar ke beberapa alur sungai. Pada tahun 2023 hingga 2024, Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran ke arah lereng selatan dan barat daya. Rangkaian aktivitas ini menunjukkan bahwa Gunung Merapi merupakan gunung api yang aktif secara berkelanjutan dan memiliki potensi bahaya yang perlu selalu diwaspadai.

Seiring berjalannya waktu, wilayah yang terdampak erupsi Merapi mulai bangkit. Sisa-sisa letusan seperti batu besar, pasir vulkanik, dan bangunan yang rusak tidak semuanya dihilangkan. Sebagian kawasan justru dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas. Dari sinilah muncul kegiatan wisata yang dikenal dengan Lava Tour Merapi.

Lava Tour Merapi merupakan kegiatan wisata menggunakan kendaraan jip yang mengajak pengunjung menyusuri jalur bekas erupsi Merapi. Jalur ini melintasi beberapa titik penting yang terdampak langsung oleh letusan, seperti bekas rumah warga, bunker perlindungan, aliran sungai yang dilalui lahar, serta area yang tertutup material vulkanik. Wisatawan dapat melihat secara langsung dampak nyata dari erupsi gunung api.

Salah satu jalur yang sering dilalui berada di kawasan Kaliadem dan sekitarnya. Di wilayah ini, pengunjung dapat melihat sisa-sisa bangunan yang rusak akibat awan panas. Selain itu, terdapat Museum Sisa Hartaku yang menyimpan berbagai barang milik warga yang rusak karena erupsi, seperti peralatan rumah tangga dan sepeda motor. Benda-benda tersebut menjadi bukti nyata betapa besar dampak bencana alam terhadap kehidupan manusia.

Selain sebagai wisata petualangan, Lava Tour Merapi memiliki nilai edukasi kebencanaan yang sangat penting. Melalui kegiatan ini, pengunjung dapat memahami bahwa erupsi gunung api merupakan peristiwa alam yang memiliki pola dan tanda-tanda tertentu. Penjelasan dari pemandu membantu pengunjung mengenali jalur aliran lahar, kawasan rawan bencana, serta alasan mengapa beberapa wilayah tidak aman untuk dihuni.

Lava Tour Merapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Pengunjung dikenalkan pada jalur evakuasi, pentingnya mengikuti peringatan dari pihak berwenang, serta peran masyarakat dalam mengurangi risiko bencana. Dari pengalaman tersebut, pengunjung dapat belajar bahwa mitigasi bencana bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.

Bagi masyarakat sekitar Merapi, Lava Tour juga memberikan manfaat ekonomi. Banyak warga yang beralih profesi menjadi pemandu wisata, pengemudi jip, atau pengelola usaha kecil. Dengan demikian, kawasan yang sebelumnya terdampak bencana dapat bangkit kembali melalui pemanfaatan wisata berbasis edukasi. Secara keseluruhan, Lava Tour Merapi bukan sekadar kegiatan wisata biasa, melainkan sarana pembelajaran tentang kebencanaan dan pentingnya hidup berdampingan dengan alam secara bijak.

GLS #1 – Rabu, 4 Februari 2026 (Kelas 8)
Lava Tour Merapi sebagai Wisata Edukasi Bencana



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *