HISTORIS SMP MUHAMMADIYAH 1 DEPOK

Perintisan Sekolah

Dusun Stan, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu nama tempat yang bersejarah bagi Persyarikatan Muhammadiyah di Depok. Dusun Stan memiliki asal-usul yang unik. Kata Stan mempunyai nama asli “Setan”. Namanya memang terdengar menyeramkan, akan tetapi bukan berarti zaman dahulu banyak hantu di daerah tersebut. Menurut penuturan sesepuh Dusun Stan, Mbah Djaeri, kata setan berarti “Mingset Ngetan”  yang berarti “tersembunyi di wilayah timur” karena memang letak dusun ini berada di wilayah timur Kecamatan Depok. Mungkin orang agak canggung memanggil kata “Setan”, sehingga untuk memudahkan maka mereka menyebutnya dengan “Stan”. Hal itulah yang mendasari sebutan Dusun Stan hingga saat ini.

Dusun Stan adalah salah satu wilayah daerah Maguwoharjo yang sangat strategis karena menjadi jalur alternatif dari Kota Yogyakarta ke arah Ngemplak, Ngaglik atau ke Kalasan. Ciri khas daerah tersebut berdirinya Stadion Maguwoharjo dan Pasar Stan yang buka dari pagi hingga sore. Selain itu, juga terdapat bangunan ibadah yang bernama Masjid Baiturahman. Masjid tersebut berdiri kokoh sejak tahun 1960-an dan letaknya berada di pinggir jalan. Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat Stan termasuk masyarakat yang religius dan mengikuti tokoh masyarakat yang di depan dan menjadi panutan. Zaman dahulu daerah ini juga dikenal dengan pusatnya dakwah Muhammadiyah karena adanya kegiatan ranting Muhammadiyah yang aktif berupa pengajian di Masjid Baiturahman. Semakin aktifnya kegiatan Muhammadiyah beberapa tokoh berinisiatif mendirikan sekolah di Stan, yang bernama SMP Muhammadiyah 1 Depok.

SMP Muhammadiyah 1 Depok didirikan tepat pada tanggal 1 Januari 1968. Mula-mula SMP Muhammadiyah 1 Depok bernama SMP Muhammadiyah Setan. Setelah memiliki gedung dan tanah sendiri berubah nama menjadi SMP Muhamamdiyah 1 Depok atas dasar musyawarah persyarikatan. Ide pendirian SMP Muhammadiyah 1 Depok ini berasal dari empat tokoh inisiasi ideologi Muhammadiyah yang mengajar di SMP Ma’arif yang terletak di Dusun Denokan, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Adapun empat tokoh perintis pendiri SMP Muhammadiyah 1 Depok yaitu H. Muh. Djaeri, Drs. Iskandar, Yitno Diharjo, dan Achirman, yang dibantu oleh angkatan muda S. Subagya dan H. Barmadi, dan beberapa tokoh lainnya. Pendirian sekolah SMP Muhammadiyah 1 Depok didasari keinginan kuat para tokoh pendiri untuk adanya generasi yang mengenal pendidikan di Kecamatan Depok.

Pada waktu itu, SMP Muhammadiyah 1 Depok belum memiliki gedung sendiri sehingga pada awal  kegiatan pembelajaran SMP Muhammadiyah 1 Depok dilakukan secara berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, karena semangat para tokoh pendiri sekaligus yang menjadi guru di sekolah tersebut, hal tersebut tidak menjadi kendala dalam mengajar. Kegiatan belajar mengajar tetap berpindah-pindah selama kurang lebih 5 tahun hingga akhirnya pada tahun 1973 baru dapat menetap di atas tanah sendiri hasil wakaf dari keluarga Sono dan Yitno Diharjo  warga Dusun Stan. Meski sudah menetap di tanah sendiri, sekolah masih dalam bentuk papan belum berupa bangunan, sehingga sembari menunggu pembangunan selesai sebagian pembelajaran masih dilangsungkan di beberapa rumah warga. Beberapa tahun kemudian, bangunan kokoh SMP Muhammadiyah 1 Depok terwujud.

Perkembangan Periodik

Perkembangan sekolah berkaitan erat dengan pendiri, pemimpin dan kinerja pemimpin saat diberi tanggung jawab. Latar belakang pendirian sekolah harus selalu diingat dan dikembangkan oleh para penerus sekolah. Berikut perkembangan SMP Muhammadiyah 1 Depok berdasar periode tahun.

Periode Tahun 1968-1989

Tahun 1968 merupakan tahun awal berdirinya SMP Muhammadiyah 1 Depok. Pendiri sekaligus pemimpin sekolah pada waktu itu merasakan manis dan pahitnya proses pendirian sekolah. SMP Muhammadiyah 1 Depok belum memiliki gedung sendiri sehingga awal kegiatan pembelajaran SMP Muhammadiyah 1 Depok dilakukan secara berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Bermula dari lesehan di serambi Masjid Stan, kemudian berpindah ke rumah S. Subagya, dan berpindah ke rumah bapak dukuh, serta ke rumah warga lainnya. Tak lama kemudian, bangunan kokoh SMP Muhammadiyah 1 Depok terwujud.

Dalam awal proses belajar mengajar, jumlah guru dan siswa masih belum sebanding, justru jumlah guru lebih banyak dibandingkan siswa yaitu 21 guru dan 17 siswa. Guru yang mengajar saat itu selain empat tokoh perintis juga terdapat guru dari luar yang memiliki semangat dan bersedia berjuang bersama mewujudkan cita cita dan ideologi Muhammadiyah. Kepala sekolah tidak menuntut guru untuk mengajar profesional, karena keadaan keuangan sekolah tidak memungkinkan untuk menggaji guru. Untuk itu, guru tidak diberi honor, melainkan diajak makan sore bersama di rumah empat tokoh inisiasi tersebut secara bergantian dan diberi “sangu untuk membeli sabun”, disebut demikian karena memang nilai nominalnya yang kecil. Kekompakan para guru saat itu membuat sekolah ini bertahan dan semakin berkembang. Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) hanya menggunakan spanduk yang dipasang di pinggir Jalan Stan, karena memang SMP Muhammadiyah 1 Depok sudah memiliki “nama” di masyarakat dan kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya karena sekolah yang mengunggulkan keagamaan. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah siswa terbanyak pada tahun 1985-1986 yaitu 596 siswa tepatnya 15 kelas paralel. Selain itu, faktor lainnya adalah belum banyaknya kompetitor seperti SMP negeri dan swasta. Sekolah muhammadiyah satu-satunya yang berada di Stan hanyalah SMP Muhammadiyah 1 Depok.

Jumlah siswa yang banyak juga membuat para guru bersemangat. Oleh karena itu, kepala sekolah sering mengadakan rapat rutin di malam hari bersama dengan guru-guru. Rapat rutin ini membahas yang berkaitan dengan kemajuan sekolah seperti program-program yang akan dijalankan. Sikap pimpinan yang ramah, bijaksana, disiplin, dan mengayomi anak buah inilah yang menghidupkan sekolah, guru, dan siswa menjadi satu visi misi. Di bidang prestasinya pun memiliki catatan prestasi yang unggul. Untuk konteks Kabupaten Sleman, SMP Muhammadiyah 1 Depok merupakan sekolah yang paling favorit dan berprestasi. Terutama di bidang olah raga berupa voli dan sepak bola. Hampir tiap tahun meraih juara pertama dalam kegiatan PORSENI.

Tahun 1990 setelah upacara Hari Kemerdekaan pimpinan sekolah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan beliau meninggal setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Untuk mengisi kekosongan pimpinan sekolah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sleman menunjuk salah satu senior dan guru generasi awal SMP Muhammadiyah 1 Depok sebagai pejabat sementara (PJS) terhitung mulai 1 Januari 1991.

Periode Tahun 1992-1996

Pada saat itu, SMP Muhammadiyah 1 Depok dipegang oleh kepala sekolah definitif. Berawal dari statusnya karyawan pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Depok kemudian berganti menjadi guru pengampu mata pelajaran IPS dan Kemuhammadiyah. Karena ketekunannya, beliau diusulkan menjadi kepala SMP Muhammadiyah 1 Depok.

Sejak kepemimpinan beliau, sekolah terus berkembang sesuai dengan visi dan misi sekolah. Budaya dan etos kerja dari pimpinan periode awal masih bisa diterapkan dan berkelanjutan. Kondisi siswa saat itu berjumlah paralel empat kelas, sedangkan jumlah guru 30-an. Program-program sekolahpun masih berjalan, seperti:

Sosial dengan siswa atau PPDB

Untuk membangun kepercayaan orang tua siswa kepada sekolah dilaksanakan beberapa kegiatan sosial berupa mengunjungi anak yang sakit, lebih memperhatikan anak yang tidak mampu, dan keringanan biaya bagi yang berkakak-adik.

Pembinaan internal

Pernah terjadi ketidakharmonisan sebagian bapak ibu guru yang disebabkan oleh kurangnya komunikasi yang tidak efektif. Oleh karena itu, untuk membangun kekompakan sesama guru mengadakan kegiatan pergi ke Bali dengan sepeda motor atau touring, terutama guru laki-laki. Selain itu, juga terdapat kegiatan pengajian rutin tiap bulan yang diadakan secara “bergilir” di rumah guru dan karyawan.

Kepala sekolah memiliki harapan yaitu SMP Muhammadiyah 1 Depok menjadi sekolah yang lebih mendalami ilmu agama Islam atau semi pondok seperti terciptanya SDM religius; adanya siswa yang menjadi hafiz Quran (hafal 30 juz), adanya siswa yang menjadi dai, dan adanya siswa bisa menjadi muadzin dan imam salat di masyarakat.

Periode Tahun 1998-2005

Pada waktu itu sekolah dalam keadaan stabil, akan tetapi karena adanya persaingan antar sekolah yang cukup sengit maka berimbas pada penerimaan siswa baru. Pada tahun ini juga merupakan tahun menurunnya minat siswa bersekolah di SMP Muhammadiyah 1 Depok. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa adanya konflik di dalam sekolah, ketika para guru tidak lagi kompak, terjadinya kesenjangan sosial antar guru. Untuk faktor eskternal berupa semakin pesatnya kompetitor SMP negeri, SMP swasta dan MTs di daerah Depok. Selain itu, siswa lulusan SD pada tahun itu tidak sebanyak kuota yang dibutuhkan SMP. Namun, tidak hanya SMP Muhammadiyah 1 Depok saja yang mengalami penurunan tersebut sekolah swasta lainnya pun juga mengalaminya. Oleh karenanya, pada saat itu siswa SMP Muhammadiyah 1 Depok menurun berjumlah dua kelas paralel.

Faktor eksternal lainnya, adanya persepsi yang keliru dari masyarakat mengenai program sekolah yang menggratiskan seragam untuk muridnya, dengan tujuan menggaet murid lebih banyak. Tetapi hal tersebut dianggap tidak tepat, karena justru membuat image sekolah menjadi turun dan buruk. Banyaknya siswa pindahan yang membuat image sekolah tidak lebih baik.

Meskipun jumlah siswa menurun, tetapi sekolah tetap berusaha maksimal dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan program-program yang dimiliki. Sekolah juga tetap melaksanakan program-program yang direncanakan. Program yang berkaitan dengan ekstrakurikuler olah raga seperti voli dan sepak boola dipertahankan. Program yang menyangkut PPDB adalah melaksanakan kegiatan try out yang mengundang murid kelas VI SD. Selain itu, program untuk mennumbuhkan kekompakan para guru dan karyawan mengadakan pengajian tiap bulan di rumah guru secara “bergilir”.  

Periode Tahun 2005-2009

Perkembangan SMP Muhammadiyah 1 Depok semakin memprihatikan. Keadaan SMP makin menurun dari segala segi. Salah satunya segi transformasi kepemimpinan dan manajemen sekolah, karena adanya konflik dan berganti-ganti. Tahun 2005 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Depok mengambil kebijakan untuk dilakukan pendampingan dan pembinaan dari SMP Muhammadiyah 3 Depok—yang berdiri tahun 1981—karena itu, kepala sekolah dilimpahkan pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah SMP Muhammadiyah 3 Depok, untuk kegiatan kesehariannya, SMP Muhammadiyah 1 Depok diamanatkan pelaksana harian (Plh). Kebijakan tersebut berlangsung hingga tahun 2009.

Pada saat bekerja sama dengan SMP Muhammadiyah 3 Depok, setiap hari Sabtu siswa SMP Muhammadiyah 1 Depok belajar bersama di SMP Muhammadiyah 3 Depok baik belajar komputer, seni kerajinan, dan sebagainya. Semakin sepinya keadaan sekolah, ditambah dengan setiap Sabtu sekolah menjadi kosong mengakibatkan masyarakat beropini bahwa sekolah Stan sudah bubar. Tidak hanya siswa, gurupun juga semakin sedikit sehingga mengharuskan adanya pertukaran guru dan saling mengisi mata pelajaran yang belum ada.

Perkembangan berikutnya, tepatnya di tahun ajaran 2008, merupakan puncak keterpurukan SMP Muhammadiyah 1 Depok dari segi guru maupun siswa. SDM yang dimiliki ketika itu hanya berjumlah 14 guru. Untuk segi siswa, hanya mampu menerima siswa baru berjumlah 10 siswa yang kemudian hanya bertahan 8 siswa. Keterpurukan tersebut mengakibatkan terancamnya SMP Muhammadiyah 1 Depok untuk ditutup, karena tidak memenuhi jumlah standar minimal siswa baru. Hal tersebut terjadi karena persaingan penerimaan siswa baru dengan SMP negeri dan SMP swasta lainnya juga manajemen sekolah yang tidak berjalan dengan baik. Akhirnya, SMP mampu meningkatkan jumlah siswa menjadi 25 siswa, yang menjadikan sekolah ini tidak jadi ditutup.

Pertengahan tahun 2009, tepatnya pada tanggal 1 Juni 2009, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Depok kembali mengajukan solusi alternatif dengan menempatkan kepala sekolah definitif yang konsern dan secara totalilitas mencurahkan perhatiannya sepenuh-penuhnya untuk penyelamatan masa depan SMP Muhammadiyah 1 Depok. Selain Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Depok, juga tidak terlepas dari support dan atensi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY melalui Majelis Dikdasmen PWM D. I. Yogyakarta. Mendukung sepenuhnya transformasi kepemimpinan dan manajemen SMP Muhammadiyah 1 Depok. Untuk selanjutnya dilantik secara resmi oleh Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman.

Periode Tahun 2009-2019

Dimulai dari tahun 2009, dengan keadaan jumlah siswa yang sedikit yaitu berjumlah 46 siswa terdiri dari kelas VII, VIII, dan IX. Namun, hal tersebut justru memacu semangat pemimpin sekolah dan warga sekolah lainnya. Perubahan dan pengembangan SMP Musade di awali dengan mengkonsolidasikan team work SMP Muhammadiyah 1 Depok di kalangan internal (Guru dan Karyawan) dan keluarga besar SMP Muhammadiyah 1 Depok (Sesepuh, keluarga muaqqif, tokoh masyarakat dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kecamatan Depok). Puncaknya, pada tanggal 20 Juni 2009, seluruh stakeholders setelah melalui proses konsolidasi tersebut, duduk bersama membicarakan masa depan SMP Muhammadiyah 1 Depok, dan menunjuk pimpinan untuk meneruskan amanah menjadi kepala SMP.

Tahun tersebut juga merupakan tahun terjadinya momen perubahan besar SMP Muhammadiyah 1 Depok yakni meneguhkan perubahan dan pembenahan kualitas, manajemen, dan program sekolah. Perubahan ini memiliki arti penting, mengingat kondisi sebelumnya mengalami keterpurukan di berbagai dimensi. Semangat perubahan dan pembenahan yang tersimpul dalam sebuah motto: berubah, berbenah dan inovatif.

Program-program yang di rencanakan pada waktu itu yaitu 1) memenuhi target minimal minat siswa untuk sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Depok, 2) memulihkan tingkat kepercayaan masyarakat, 3) membangun dan membuka komunikasi yang efektif dan komunikatif terhadap masyarakat, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Depok dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Maguwoharjo, 4) membenahi pengelolaan manajemen dan keuangan sekolah, 5) peningkatan kualitas SDM, 6) mengoptimalkan peran serta masyarakat dan ORTOM Muhammadiyah, 7) membumikan nilai-nilai kemuhammadiyahan, dan 8) menciptakan kultur dan ikon Sekolah menjadi Sekolah yang bermutu, unggul, kreatif, dan inovatif.

Program unggulan pada masa kepemimpinan ini diawali dengan program full day school (sekolah lima hari), kemudian dilanjut membiasakan salat duha-dhuhur-ashar berjamaanh, kegiatan ISMUBARIS (Al-Islam Kemuhammadiyahan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris) terdiri dari hafalan ayat-ayat Al-Qur’an pilihan di luar Juz 30, Hafalan Juz 30, Mufrodat dan Mahfuzhat Bahasa Arab, Inggris dan Amalan Ibadah Harian, aktivitas 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun); guru menyapa murid di depan halaman sekolah, dan terpilihnya sekolah menjadi piloting nasional program penguatan pendidikan karakter oleh Kemendikbud RI.

Selain itu, program lain yang berkaitan dengan PPDB dan dilaksanakan oleh pihak sekolah berupa sistem door to door; ke SD dan ke rumah siswa, kegiatan try out SD kelas VI, dan presentasi profil sekolah ke SD. Program tersebut berhasil meningkatkan jumlah siswa dari 46 siswa bertambah 61 siswa kemudian 100-an siswa lalu 200-an siswa dan akhirnya 300-an siswa. Selesai tahun tersebut, yang mengisi posisi kepala sekolah plt.

Periode Tahun 2020-sekarang

Pada tahun ini, yang menjabat kepala SMP Muhammadiyah 1 Depok merupakan wakil kurikulum pada periode sebelumnya. Tahun 2019 akhir merupakan awal virus Covid-19 melanda dunia yang mengakibatkan segala aktivitas khususnya pembelajaran, dilaksanakan secara daring. Situasi ini menjadi tantangan baru bagi pendidik, mulai dari menginovasi, mengkreasi, dan mengembangkan pembelajaran dengan model baru. Kepala sekolah, seluruh guru, dan karyawan SMP Muhamamdiyah 1 Depok bekerja keras menjalankan kegiatan sekolah secara daring. Pembelajaran daring dimulai dengan pelatihan untuk guru terkait dengan penggunaan aplikasi-aplikasi pembelajaran seperti Jogja Belajar, google classroom, dan pengembangan kanal youtube Musade TV dalam bentuk video pembelajaran. Para guru diharuskan menyiapkan rencana pembelajaran daring, metode pembelajaran, materi yang dikemas dalam bentuk yang lebih menarik, dan dapat diakses melalui internet. Penilaian siswa dapat dilihat dari tugas-tugas yang disediakan melalui google clalssroom. Selain itu, pelayanan pendidikan juga berjalan lancar. Meskipun di masa pandemi, SMP Muhammadiyah 1 Depok tetap dapat melakukan beberapa kegiatan lomba dalam rangka Bulan Bahasa, hari lahir Musade ke-53, Kemerdekaan RI, Pesantren Ramadhan, Semarak lomba bulan Ramadhan, dan juga mengikuti event-event lomba di tempat lain. Selain itu, SMP Muhammadiyah 1 Depok juga mendapatkan prestasi bidang Scouting Competition Tingkat SMP/ MTs Se-DIY dalam kategori Film Pendek. Pelayanan  terhadap orang tua seperti parenting dan konsultasi terhadap kemajuan belajar peserta didik juga terlaksana dengan baik. Hal tersebut membuktikan bahwa SMP Muhammadiyah 1 Depok mampu beradaptasi dengan keadaan baru pandemi Covid-19. Walaupun pandemi Covid-19 mempengaruhi kegiatan PPDB SMP Muhammadiyah 1 Depok, tetapi karena semangat para guru dan program-program yang menarik berupa potongan Covid-19 dan potongan per gelombang maka sekolah mampu bertahan dengan jumlah empat kelas. Hal itu memberikan arti bahwa kepercayaan dari masyarakat masih tinggi terhadap SMP Muhammadiyah 1 Depok.