Perbedaan praktik zakat dalam rumah tangga kerap muncul akibat beragamnya pemahaman terhadap jenis harta dan dasar pengenaannya. Ada yang menerapkan zakat hasil pertanian sebesar 10 persen, zakat emas 2,5 persen, bahkan zakat gaji dipungut hingga 10 persen. Keragaman ini perlu diluruskan agar pelaksanaan zakat benar-benar sesuai dengan prinsip syariat dan tidak membebani umat secara berlebihan. Zakat pada hakikatnya adalah kewajiban yang memiliki ukuran pasti, bukan semata-mata soal kemurahan hati.
Dalam kajian fikih, zakat gaji seorang karyawan pada dasarnya dimasukkan ke dalam kategori zakat harta (zakat al-mฤl). Ketentuannya mengikuti prinsip umum zakat harta hasil usaha manusia, yakni apabila dalam satu tahun akumulasi gaji yang disimpan mencapai nishab senilai 85 gram emas murni, maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5 persen. Dengan demikian, zakat gaji tidak dipungut setiap kali menerima penghasilan, melainkan setelah terpenuhi syarat nishab dan haul sebagaimana zakat harta lainnya.
Dasar normatif penetapan zakat atas hasil usaha, termasuk gaji, dapat dirujuk pada Surah al-Baqarah ayat 267 yang memerintahkan kaum beriman untuk menafkahkan sebagian dari hasil usaha yang baik. Memang terdapat pandangan yang mempersoalkan penggunaan ayat ini sebagai landasan zakat karena redaksinya memakai kata infaq. Namun, dalam praktik fikih, ayat-ayat yang menggunakan istilah infaq juga dijadikan dasar dalam penetapan zakat emas dan harta perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa secara substansial, perintah tersebut mencakup kewajiban zakat. (Baca Selengkapnya ….)



